Senin, 30 Mei 2011
Apakah Tuhan Menonton Pertandingan Sepak Bola?
Catatan: SYAIFULLAH
Menarik benar membedah pernyataannya itu. Ketika diwawancarai Reuters atas keberhasilannya membawa Timnas Italia lolos ke babak 16 besar, Trappatoni menjawab dengan unik. Tak seperti pelatih kebanyakan yang kerap menjawab pertanyaan wartawan dengan apologi sebab akibat dan sangat taktis sekali bagaikan sebuah rumus resmi, Trappatoni saat itu menjawab bahwa Tuhan pasti menonton setiap pertandingan sepak bola. Termasuk ketika timnya mampu lolos dari lubang jarum ke babak 16 besar Piala Dunia 2002. Saat itu Italia yang tergabung dalam Grup G memang hanya butuh hasil imbang karena di saat bersamaan pesaing utama Kroasia kalah dari Ekuador.
Meski sempat tertinggal lebih dulu lewat gol striker Meksiko, Jared Borgetti di menit 34, Italia mampu membalas lewat gol Alessandro Del Piero di menit 85. Hasil ini sangat disyukurinya. Maka ia tak lupa memuji Tuhannya. “Saya melafalkan doa saya yang biasa. Keadilan dan Tuhan itu ada. Saya percaya Tuhan menonton pertandingan dan Ia akan melakukan keadilan. Kami memiliki lima atau enam peluang bagus dan salah satunya pasti berhasil berdasar keadilan itu,” beber Trappatoni kepada media usai laga.
Sebagai umat beragama, tentu saja saya yakin Tuhan maha melihat. Ia melihat apa saja di atas bumi ini, termasuk menonton pertandingan sepak bola pastinya. Namun apakah Tuhan akan bersikap netral? Atau apakah Tuhan akan memenangkan satu tim yang didukungnya?
Pertanyaan itu tak layak diperdebatkan dan direnungkan. Karena jawabannya akan menuju ke hal-hal mistis di luar akal sehat manusia. Tuhan menciptakan takdir. Tapi bukan takdir itu yang hendak dibahas di sini. Yang akan dibahas adalah keterpautan antara sepak bola dan unsur misteri itu sendiri. Unsur mistis yang dikait-kaitkan Trappatoni dalam pesta sepak bola terbesar di bumi itu.
Membawa-bawa Tuhan ke arena sepak bola tampaknya kurang etis. Karena Tuhan dibutuhkan di setiap arena kehidupan. Maka itu, keterlibatan Tuhan akan menjadi sesuatu yang gaib bin mistis. Seperti sepak bola itu sendiri: penuh misteri-seperti yang kerap diutarakan pelatih kampung: Suimin Diharja.
Bicara misteri dalam sepak bola, saya sebenarnya tak ingin terlena dan percaya. Tapi media sekelas Reuters kadang terperangkap dalam ulasan-ulasan seperti itu. Reuters kerap mencari-cari sisi unik dari pergelaran sepak bola. Tujuan utama mereka merangkai hal-hal mistis acap kali berakhir di Benua Hitam Afrika. Saban digelar Piala Afrika, Reuters akan mengirim reporter terbaiknya untuk mencari-cari unsur mistis di ajang itu.
Dan Reuters memang berhasil melaporkan hal-hal ganjil yang kerap membuat bibir ini menyungging senyum. Salah satu yang ditemukan Reuters adalah kebiasaan vodoo para dukun pembela tiap negara yang bertarung. Laporan Reuters menyebutkan praktik spiritual bersifat mistis seperti mengorbankan binatang dan mengubur beberapa bagiannya di Gurun Sahara. Banyak bubuk dan cairan aneh berbau melingkari bagian tertentu di gurun itu.
Namun Konfederasi Sepak Bola Afrika melarang para tukang sihir itu masuk stadion saat berlangsung kompetisi tertinggi di benua itu. Bahkan di ajang Piala Dunia perdukunan dan unsur mistis kerap terjadi meski dalam skala minor. Trappatoni termasuk satu yang percaya hal-hal demikian. Buktinya di Piala Dunia 2002, Trappatoni kerap melakoni ritual menciprat-cipratkan air ke bangku pemain cadangan dengan tujuan yang sulit dijelaskan. Wah.
Itu semua sekelumit kisah di pentas sepak bola dunia. Apakah di negeri sendiri hal itu ada? Jawabannya tampaknya sama.
Baru-baru ini saya mendengar kalau PSMS Medan mengalami hal sama. Saat ditahan imbang 3-3 oleh Persiba Bantul yang sekaligus menggugurkan keinginan PSMS main di ISL musim depan itu, ada pengakuan unik bahwa para pemain seperti kena gendam. Unsur mistis mulai menggeliat sehari sebelum pertandingan itu. Salah satu yang kena adalah bek PSMS, Rahmat. Menurut pengakuan Asisten Manajer, Benny Tomosoa, Rahmat tidak bisa menggerakkan badannya dan tak bisa tidur sehari sebelum pertandingan. Menurut Benny, Rahmat kerap diikuti makhluk tak berwujud dan kondisi itu mengganggu kondisi psikis dan fisiknya. Alhasil, Rahmat tak turun di partai penentuan itu.
Tapi dugaan mistis itu sempat sirna ketika akhirnya PSMS berhasil unggul 3-0 di babak pertama. Semua lena dan yakin benar bahwa ISL sudah di depan mata. Tapi apa cerita? ternyata di babak kedua unsur mistis datang lagi.
Dibilang Benny pemain semua mengaku kalau di babak kedua itu mereka seperti tertekan benar dan sulit berkonsentrasi. Bahkan ada yang mengaku mereka seperti sulit sekali menggerakkan tubuhnya. “Saya tak pernah percaya yang begini. Tapi kami mengalaminya. Tidak akan ada yang percaya seperti saya juga tak akan percaya dengan kondisi mistis seperti ini. Tapi bagi yang mengalami barulah mereka percaya bahwa unsur mistis itu sendiri sebenarnya ada dalam sepak bola,” kata Benny tak bermaksud cuci tangan atas kegagalan PSMS ke ISL musim depan.
Pengurus dan Manajemen Gagal
Siapakah yang gagal? Pertanyaan klasik yang jawabannya mudah ditebak, utamanya bagi para fans setia PSMS. Rata-rata menjawab pasti: pengurus dan manajemen gagal total.
PSMS Medan Fans Club (PFC) salah satunya. Barisan kelompok pecinta PSMS yang memiliki jumlah anggota terbesar ini (1950), berharap ada revolusi besar di kepengurusan PSMS musim depan.
“Siapa lagi yang patut disalahkan? Tentu saja pengurus dan manajemen. Kalau memang tidak bisa mengurus lagi, harusnya sadar diri dan mundur. Beri kesempatan kepada orang lain yang memang bisa mengurus tim dengan baik,” koar Tony Nainggolan Ketua PFC kemarin.
Bukti kegagalan sudah terlihat jelas. Tiga musim main di kasta kedua kompetisi tentu saja jadi alasan utama yang tak terbantahkan. Kalau ingin melihat kegagalan lain, PFC juga punya jawaban. Salah satunya adalah tak berkembangnya markas PSMS: Stadion Teladan.
“Lihatlah ada waktu dua tahun untuk membenahi Stadion Teladan karena PSMS sedang tidak bermain di ISL. Kalaupun musim depan lolos ISL, tetap saja tak bisa main di hadapan pendukung sendiri karena kondisi Stadion Teladan sangat memprihatinkan. Harusnya ada desakan dari pengurus PSMS agar Stadion Teladan direnovasi,” tambah Tony.
Dosa lain adalah tak adanya sponsor yang bisa digandeng pengurus. Kalau orientasi pengurus masih menyusu APBD, maka tempatnya tak lagi cocok di PSMS. Ini karena musim depan seluruh klub di Indonesia haram pakai APBD.
Kamis, 26 Mei 2011
FlashBack Final Sepakbola Persib vs PSMS 1985
Seberapa gemuruh Anda melihat Stadion Gelora Bung Karno saat Timnas Indonesia bertanding di Piala AFF Suzuki 2010 lalu? Merah di setiap sudut, hiruk pikuk terompet dan petasan bergemuruh nyaris dari seluruh sisi stadion. Statistik mencatat, sekitar 80 ribu penonton memenuhi stadion dalam setiap laga Timnas Indonesia.
Tak ayal, kehadiran puluhan ribu penonton itu seakan membangkitkan kembali euphoria publik terhadap sepakbola nasional. Semua pihak seakan baru menyadari bahwa sepakbola telah menjelma menjadi suatu kekuatan baru pemersatu, sekaligus manifestasi dari harkat dan martabat suatu bangsa.
Namun, sadarkah Anda bahwa fenomena yang ditunjukkan Timnas Indonesia sebulan lalu itu, sesungguhnya telah dikalahkan oleh dua tim ‘lokal’, yakni PSMS Medan dan Persib Bandung, 25 tahun lalu? Jika Timnas Indonesia bertanding mewakili seluruh bangsa, PSMS dan Persib hanya mewakili dua daerah di nusantara, tapi telah mengalahkan gaung yang baru ditunjukkan Timnas Indonesia sekarang.
Ya, Final Kompetisi Divisi Utama Perserikatan tahun 1985 yang mempertemukan PSMS Medan versus Persib Bandung tercatat sebagai pertandingan sepakbola paling fenomenal dalam kancah sepakbola Indonesia. Ada dua indikasi yang memperkuat itu.
Pertama, menurut buku Asian Football Confederation (AFC) terbitan 1987, pertandingan itu ditonton oleh sekitar 150.000 orang. Bobotoh Persib dan suporter PSMS membuat Senayan banjir manusia. Spanduk “Kami Medan Bung” berkibar di seluruh penjuru stadion.
Ini merupakan pertandingan terbesar dalam sejarah sepakbola amatir di dunia. Saat itu kompetisi perserikatan masih digolongkan ke dalam liga amatir karena para pemainnya belum diikat kontrak yang jelas.
Kedua, meskipun penontonnya demikian banyak, kedua suporter tak saling bentrok sepanjang dan hingga usai pertandingan. Suporter PSMS Medan yang secara geografis lebih jauh dari Jakarta dibanding Jawa Barat, saat itu dikenal sebagai suporter fanatik yang santun. Bahkan, Mamek Sudiono, salah seorang pilar PSMS Medan saat itu pernah menceritakan betapa merindingnya dia memasuki Senayan ketika puluhan ribu suporter PSMS meneriakkan koor horas berkali-kali.
Dan yang lebih penting lagi, fanatisme luar biasa yang ditunjukkan para suporter PSMS itu dibayar tunai oleh Ponirin Meka dkk. Mereka sukses memboyong Piala Presiden ke Medan setelah menang melalui drama adu penalti 2-1, menyusul hasil imbang 2-2 pada waktu normal.
Semakin fenomenal, karena itu adalah keberhasilan PSMS beruntun kedua kalinya setelah mengalahkan lawan yang sama dua tahun sebelumnya. Tahun 1983, Ayam Kinantan juga mengalahkan Persib Bandung 3-2 di partai final melalui drama adu penalti setelah keduanya bermain imbang tanpa gol melalui waktu normal dan perpanjangan waktu.
Namun apa boleh buat, itulah catatan terakhir Ayam Kinantan mengepakkan sayapnya dalam puncak sepakbola Indonesia. Selepas itu, sepakbola Sumut (Medan) boleh dikata terlelap dalam tidur panjangnya. Kalaupun sempat menggeliat sebentar, hanya saat tim sepakbola Sumut meraih medali emas di PON tahun 1993.
Jika itu dimasukkan sebagai bagian dari catatan keberhasilan sepakbola Medan, berarti bisa disebut bahwa 17 tahun sudah publik sepakbola Medan puasa prestasi. Pelan-pelan, nama PSMS Medan semakin tenggelam dalam riuh rendah pembicaraan publik sepakbola nasional. Tak salah, karena kini PSMS satu kasta dengan tim ‘antah berantah’ selevel Persires Rengat dan Persih Tembilahan. Tanpa bermaksud meremehkan, PSMS sekarang hanya bertanding melawan tim-tim kemarin sore yang tak pernah sekalipun menorehkan nama timnya di papan skor Stadion Senayan sejak stadion itu diresmikan Bung Karno pada 24 Maret 1956.
Dua tahun belakangan inilah prestasi PSMS benar-benar berada di titik nadir dalam sejarah sepakbola nasional. Dua musim berlaga di kasta kelas dua liga sepakbola Indonesia, tentu merupakan catatan memalukan bagi tim bernama besar sebesar PSMS.
Tragisnya, di tengah jalan menukik yang semakin meluncurkan PSMS ke titik nadir itu, terjadi pula dekadensi militansi para pendukungnya. Kini, sulit rasanya berharap militansi puluhan ribu perantau asal Sumut akan membanjiri Stadion GBK saat PSMS bertanding, seperti yang mereka tunjukkan di tahun 1980-an. Jika pun ada, harus pahit mengatakannya, bahwa faktor mobilisasi berbau untung rugi yang lebih memegang peranan.
Apa yang terjadi dengan pembinaan sepakbola di Sumut pada umumnya, dan Medan pada khususnya? Kemana militansi suporter yang dulunya sangat ditakuti oleh suporter dari tim manapun itu?
Harus diakui, pembinaan sepakbola di daerah ini memang nyaris tidak berbentuk. Indikasinya cukup sederhana, kompetisi klub binaan PSMS sudah beberapa tahun ini tak pernah bergulir lagi. Padahal, seorang pemain bertalenta hanya bisa terpantau dan terasah dari sebuah kompetisi yang rutin dan berkesinambungan.
Bagaimana mungkin manajemen PSMS bisa mengetahui bahwa ada anak Medan yang lihai dan ngotot berjibaku di lapangan hijau, kalau mereka sendiri tak pernah ditampilkan dalam rentetan laga berlabel kompetisi?
Tak ayal, 40 klub di bawah naungan PSMS kini hanya main bola ‘ecek-ecek’ karena mereka tidak difasilitasi untuk menunjukkan kemampuannya dalam suatu ajang kompetisi. Bahkan, sebagian di antaranya telah benar-benar mati suri, walau masih ada pengurusnya yang mengatasnamakan tim itu ketika rapat-rapat tentang PSMS digelar secara sporadis.
Tahun lalu, polemik ini sempat mengemuka, dan sebagian jajaran pengurus PSMS di bawah kendali Wakil Wali Kota Medan Dzulmi Eldin sempat berkoar di media bahwa kompetisi PSMS akan digelar lagi. Namun, janji itu hanya tinggal janji. Hingga tulisan ini dibuat, kompetisi 40 klub tersebut yang sejatinya dibagi dalam beberapa divisi tak pernah terselenggara.
Karena itu, tidak bisa tidak, jika PSMS ingin kembali bangkit dari tidur panjangnya, kompetisi antarklub di bawah naungan PSMS itu harus diaktifkan kembali. Manajemen PSMS tak bisa begitu saja menyerahkan urusan tersebut kepada Pengda PSSI. Sebab, toh pada akhirnya, PSMS lah yang akan menuai keuntungan dari kompetisi itu berupa penemuan bakat-bakat pemain yang kelak bisa memperkuat Ayam Kinantan.
Banyak keuntungan sebenarnya yang bisa didapat manajemen dari bergulirnya kompetisi itu. Satu yang terpenting adalah meminimalisasi cost pembayaran kontrak pemain yang saat ini memang sudah di luar nalar. Sebagai pemain yang lahir dan terasah dari sebuah kompetisi intern, tentu akan lebih ekonomis ketimbang merekrut pemain jadi.
Tidak itu saja. Militansi pemain yang memang berasal dari Medan atau Sumut pada umumnya tentu akan jauh lebih kuat ketimbang pemain yang tiba-tiba memperkuat PSMS hanya karena hitungan fulus bertopengkan profesionalitas.
Betul, sepakbola hari ini memang telah mengarah kepada profesionalisme yang cenderung kapitalis, tapi militansi dan fanatisme kedaerahan adalah suatu hal yang tak bisa dinilai dengan uang. Sentuh mereka dari sisi itu, dan saya percaya masih banyak bibit pesepakbola Medan yang memilikinya. Hanya saja belum tersentuh karena manajemen sendiri tak pernah berupaya menyentuhnya.
Bagaimana soal dana? Rasanya teramat miris jika manajemen senantiasa melantunkan lagu lama itu untuk tidak menggelar laju kompetisi. Harus dipahami, aturan APBD yang tidak dibenarkan untuk tim sepakbola, tidaklah berlaku jika digunakan untuk menggelar suatu pembinaan sepakbola.
Masalahnya, ketika manajemen masih tetap menggunakan APBD dengan beragam pembenarannya, tapi mereka seakan menutup mata bahwa APBD itu selayaknya digunakan untuk membina bibit-bibit pemain muda. Ambivalensi yang sempurna telah ditunjukkan para pengurus PSMS sejak beberapa tahun lalu hingga kepengurusan yang sekarang.
Miliaran rupiah dana APBD tetap mereka ambil dengan mengatasnamakan PSMS sebagai tim milik masyarakat Medan, tapi mereka seakan menutup mata ketika talenta ribuan pesepakbola Medan mati sebelum lahir.
Ya, mati sebelum lahir, karena manajemen tak memberi mereka ruang untuk tumbuh dan berkembang. Hanya keajaiban berbau mukjizat jika pun ada satu dua bakat pesepakbola Medan itu yang terendus.
Lantas, jika sudah begini, masih layakkah militansi itu muncul dari publik Medan? Mungkinkah orang yang tak pernah merasa dilibatkan akan mempunyai rasa memiliki? Mungkinkah orang yang telah dibunuh talentanya akan merasa penting untuk membela panji-panji kebesaran Ayam Kinantan dengan semangat ala rap-rap yang sempat mencengangkan mata publik sepakbola nasional puluhan tahun yang lalu?
Sabtu, 19 Maret 2011
Stadion Teladan Bisa Seperti Wembley
Stadion Teladan merupakan salah satu aset terpenting dalam pengembangan dan kemajuan industri sepakbola di Medan. Peran sebuah stadion bisa memberikan dampak positif bagi semua elemen masyarakat, khususnya para pecinta dan penggila sepakbola.
Demikian dikatakan Vice President Liga Primer Indonesia (LPI) Regional Sumatera-Aceh, Avian Tumengkol, Selasa (15/3). Kepada Waspada, Avian mengatakan harapannya Pemko Medan dapat mengambil bagian penting untuk memaksimalkan keberadaan stadion kebanggaan PSMS itu.
"Stadion Teladan punya potensi yang luar biasa untuk menjadi persepakbolaan daerah kita di Medan menuju industrialisasi sepakbola. Kontribusi dan industri sepakbola ini bisa menguntungkan semua elemen masyarakat," jelas Avian.
"Kalau stadion kita bisa memenuhi standar internasional dan semua penonton bisa merasakan kenyamanan dan keamanan, yang untung kan semua masyarakat di Medan. Tidak menutup kemungkinan Teladan bisa jadi semacam Stadion Wembley di Indonesia," terangnya.
Karena itu, diimbau semua elemen turut ambil bagian. Selain pemerintah, para suporter juga harus berperan secara positif untuk memelihara stadionnya hingga petugas kebersihan dan panitia pelaksaan pertandingan harus profesional.
"Dan semua layanan kepada penonton juga profesional. Tentu para pemain akan tampil dengan permainan cantik di hadapan suporternya dan perusahaan swasta dengan sendirinya invenstasi untuk memajukan industrialisasi sepakbola bersama," tegas Avian menambahkan Konsorsium LPI siap membantu dalam hal investasi untuk mendukung pemerintah daerah.
“Kami justru menawarkan kepada pihak Pemko (Medan) untuk memberikan pendanaan renovasi stadion. Investasi ini bertujuan untuk kepentingan bersama, maka saya berharap Walikota berkenan memberikan izin untuk langkah perbaikan ini,” harap Avian.
Menanggapi itu, Walikota Medan Rahudman Harahap menyatakan komitmennya turut mendorong perubahan dan kemajuan dalam rangka mereformasi persepakbolaan daerah di Sumut, khususnya di Medan.
Kamis, 17 Maret 2011
Musim ini saatnya bagi PSMS?
Kondisi juga berlanjut di awal musim Divisi Utama 2010/2011 ini. Mengawali start dengan dua kemenangan kandang atas Persitara dan Persikabo, PSMS kembali terpuruk dengan tiga kekalahan beruntun dari tur Acehnya. Kegagalan yang berujung pemecatan terhadap Zulkarnain Pasaribu dan asisten-asistennya.
Tim tak lebih baik saat pelatih kenyang pengalaman seperti Rudy Keltjes dihadirkan. Menjalani satu laga yang berujung kekalahan kandang atas Persih, Rudy memilih mundur. Pupuskah mimpi ke ISL?
Ternyata tidak. Suharto dan Asistennya Edy Syahputra yang sebelumnya membesut Bintang Medan dihadirkan untuk membenahi tim. Aroma ketidakyakinan pun muncul mengingat Suharto belum punya pengalaman membesut tim untuk kompetisi profesional seperti Divisi Utama.
Namun kenyataan berkata lain. PSMS bangkit dan Suharto cs menjawab keraguan dengan sederetan kemenangan. Mulai dari kemenangan atas Persires Rengat (3-0), Pro Titan FC (2-0) yang dilanjutkan dengan menahan imbang PSLS Lhokseumawe dan PSSB Bireuen di laga away menempatkan PSMS di posisi empat klasemen pada akhir putaran pertama.
Meski sempat takluk dari Persipasi Bekasi 2-3, PSMS pulang dengan kepala tegak karena menyajikan perlawanan berkualitas. Persita Tangerang pun ditahan imbang 1-1 di kandangnya. Kepercayaan diri berlanjut di Teladan dengan melibas PSSB (3-0), PSLS (1-0) dan terakhir Pro Titan (2-1). Mempertahankan posisi di papan atas, semua pihak pun percaya ini bakal menjadi tahunnya PSMS.
Asisten Manajer PSMS, Benny Tomasoa meyakini hal itu. Menurutnya ini merupakan musim dimana PSMS patut mendapatkan tiket kembali ke ISL. Tempat seharusnya Ayam Kinantan berada dan bertarung bersama seteru-seterunya Persija, Persib dan lainnya.
"Saya pikir ini tahunnya PSMS. Dan hasil positif yang kita raih belakangan ini tetap menjaga peluang kita untuk mencapai ISL. Semua pihak bekerja keras untuk ini baik tim maupun suporter yang selalu mendukung kita," ujar Benny.
Namun perjalanan PSMS masih panjang. Dua laga away ke depan Persih dan Persires akan menjadi penjegal langkah PSMS. Selanjutnya, Persiraja, PSAP dan PS Bengkulu yang harus dilewati sebelum akhirnya menutup musim berhadapan dengan Persikabo dan Persitara.
"Kita harap terus meraih hasil positif ke depan. Meskipun kita tahu jalan selanjutnya tidak akan mudah," lanjut Benny.
Selasa, 08 Februari 2011
Minggu, 16 Januari 2011
Save Our Kinantan
Namun kita harus ingat, PSMS juga menang di 2 laga kandang di awal musim, namun 'keok' di 3 laga tandang selanjutnya yang berbuah “pemecatan’ pelatih bang Zul ke Rudi William Keltjes yang hanya berumur 1 laga yang berakhir dengan kekalahan kandang versus Persih. Selanjutnya, Keltjes digantikan oleh Suharto hingga saat ini.
Dari fakta ini, terlihat bahwa sebenarnya kondisi saat ini tidak lebih baik dibandingkan dengan kondisi awal musim. Strategi gonta-ganti pelatih yang dilakukan oleh pengurus bukanlah hal mendasar menuju perbaikan di tubuh PSMS, bahkan saya diyakini bahwa pengurus juga tahu akan hal ini. Kuat dugaan gonta-ganti pelatih ini adalah untuk mengalihkan perhatian dari hal-hal lain yang lebih dibutuhkan oleh PSMS.
Memasuki musim kedua sejak degradasi ke kasta kedua sepakbola Indonesia, belum terlihat upaya serius dari pengurus untuk mengembalikan PSMS ke tempat yang selayaknya di Liga Super. Tren sepakbola ke arah profesionalisme tidak terasa gaungnya di tubuh PSMS, sponsor yang digadang-gadang dari awal namun realisasinya sampai saat ini tidak ada bahkan untuk sponsor jersey sekalipun.
Praktis saat ini pengurus hanya mengandalkan kucuran dana dari APBD. Kondisi lapangan Stadion Kebun Bunga sebagai tempat latihan juga sangat jauh dari memadai.
Apakah PSMS bisa maju dengan keadaan sekarang? Tidak.
Apakah memang nama PSMS tidak menarik lagi bagi sponsor? Tidak dengan kepengurusan sekarang.
Apakah pengurus sekarang serius mengupayakan PSMS promosi ke Liga Super? Tetap tidak.
Mengapa? Jawabannya silahkan dikaitkan dengan logika sederhana dibawah ini.
Seandainya PSMS promosi ke Liga Super, apa yang terjadi? PSMS akan jadi tim musafir karena Teladan belum lolos verifikasi. Mengingat dalam derby Medan kemarin, PSMS vs Pro Titan, pertandingan sempat dihentikan karena lapangan banjir, dan untuk bersaing di Liga Super, PSMS harus mendatangkan pemain kelas atas.
Kedua hal diatas akan membutuhkan dana yang jauh lebih besar dibandingkan dengan di Divisi Utama. Jatah dana dari APBD akan terkuras untuk operasional.
Sebenarnya pihak Liga Primer pernah menawarkan ke pengurus PSMS untuk ikut LPI dengan suntikan dana jauh lebih besar dan juga renovasi Stadion Teladan, tapi dana harus dikelola secara profesional. Namun pengurus lebih memilih strategi bermuka dua dengan menelurkan Bintang Medan FC yang sebelumnya akan memakai nama Bintang PSMS.
Terlihat dengan kasat mata, mereka tidak ingin kehilangan APBD tetapi juga sekaligus bisa menikmati LPI. Untung saja pihak LPI tidak mengakomodir adanya rangkap jabatan antara pengurus Bintang Medan dan PSMS. Tapi seiring bergulirnya LPI, bukan tidak mungkin ada pengurus PSMS yang coba loncat ke Bintang Medan FC.
Bagi saya pribadi, pengurus PSMS lah yang perlu diperbaiki saat ini, bisa diganti atau yang kedua mengubah paradigma pengurus. Tapi pilihan kedua ini sesuatu hal yang sangat sangat sulit dilakukan. Revolusi kepengurusan PSMS jauh lebih penting dari sekedar gonta-ganti pelatih.
Save Our Kinantan ini dibutuhkan kekuatan untuk mendorong terjadinya revolusi di tubuh pengurus PSMS saat ini. Kekuatan media lokal yang masih menginginkan kejayaan PSMS plus tekanan dari barisan suporter PSMS adalah kekuatan dahsyat apabila disatukan.
Bersatulah PSMS Fans Club, Ultras1950, Smeck Hooligan, Kampak, Persetan dan seluruh pecinta PSMS Medan. Tidak perlu satu bendera, tapi satu paradigma, persepsi dan satu tujuan yaitu mengembalikan kejayaan Ayam Kinantan.
Jumat, 17 Desember 2010
Efek Stadion TELADAN MEDAN
Mengingat historis puluhan tahun silam, PSMS Medan berjaya. Meskipun turun kelas, Ayam Kinantan tetap menawan dan mempesona. Tingkat Nasional, tim kebanggaan kota Medan ini sudah menyandang enam kali gelar juara – semenjak kompetisi resmi PSSI tahun 1951. Bahkan berhasil pula mengambil gelar juara berturut-turut di tahun 1967, 1969 dan 1971. Tak cukup sebagai jawara di tanah air, juga mengukir prestasi di tingkat Asia.
The Killer – julukan lain dari PSMS Medan, mencatat sebanyak lima kali mengikuti kejuaraan di luar negeri. Dalam Turnamen bertajuk Aga Khan Gold tahun 1967 di Dakka Pakistan Timur (Bangladesh, Red), PSMS keluar sebagai juara. Dua gol dari Tumsila menumbangkan klub tuan rumah Mohamaden dengan skor 2-1. Berlanjut di tahun 1977, dalam gelaran Quenn Cup di Bangkok. Sayangnya, anak-anak Medan ini gagal menempuh babak semifinal. Terakhir, PSMS Medan mencatatkan sebagai tim pertama dari Indonesia yang lolos sampai babak 16 besar, di AFC Cup 2009 lalu.Sebuah prestasi yang membanggakan tentunya. Itulah sederetan fakta. Kebenaran dan kebanggaan yang pelan-pelan luntur, akibat menurunnya prestasi.
Prestasi PSMS Medan dimana sebuah zaman, saat Stadion Teladan berdiri megah. Stadion yang layak untuk ditandangi klub – klub dari Asia, seperti Korea, Jepang, Vietnam, Singapura dan Burma. Stadion Teladan yang melahirkan sejarah hingga cerita menarik lainnya. Perseteruan dan perselihan tumbuh di kalangan pemain. Misalnya protes kapten klub Vietst, Nguyen Van Mon. Terkait keputusan wasit Takayama dari Jepang, atas hakim garis Polinandu yang tidak melihat offside pemain PSMS. Ada juga juga perseteruan pemain Korea Selatan dengan anak-anak bola Vietnam Selatan. Belum lagi kericuhan antara Tumsila (PSMS) dan Jacob Sihasale plus Didiek dari Persebaya.
Setelah dibangun menyambut even Nasional PON III 1953 di Sumatera Utara, Stadion Teladan saat itu sangat representative. Tak hanya dari deretan Asia, klub dari Australia dan Belanda hingga Lokomotiv Rusia sekalipun pernah menginjakan kakinya.
Termasuk tim selevel Seri A Liga Italia, Samdoria di tahun 1996, saat melawan tim nasional Indonesia. Tingginya arus kompetisi di Stadion Teladan membuahkan pemain bintang.
Kota Medan menjadi salah satu barometer sepakbola di Indonesia. Tercatat dalam sejarah nama-nama seperti Ramlan Yatim, Manan Laly, Ramli Yatim, Buyung Bahrum, Rasyid, Anwar Daulay, Idris, Jusuf Siregar, Syamsudin, Ahmad Kadir dan Cornel Siahan (PSMS tahun 1950-an). Menyusul terdapat Yuswardi, Muslim, Rudy Siregar, Jamaluddin, Zulham Yahya, Sunarto, Edy Suwardi, Abdul Rahim, Zulkarnaen, Ipong Silalahi dan Nawir Siregar di tahun 1960-an. Berlanjut ke tahun 1987, zamannya Sunardi B dan juga Nobon, Ponirin hingga pemain Parlin Siagian.
Kini waktu terus berjalan. Banyak harapan besar yang diwariskan untuk melanjutkan tradisi hebat tersebut. Sayangnya, harapan itu gagal total. Kota Medan seperti bermimpi dalam kondisi yang tidak tertidur. Berharap berprestasi namun tidak bekerja. Apalagi pasca Badan Liga Indonesia (BLI) memperlakukan proses verifikasi soal infrakstrur Stadion (2008/2009) lalu. Sepakbola Medan mati suri. Beberapa fasilitas penunjang seperti ruang ganti, lampu, rumput tidak sesuai dengan manual untuk menggelar Indonesia Super League (ISL). Stadion Teladan menjadi saksi mati prestasi PSMS.
Kota Medan tidak lagi menjanjikan bagi pemain bola. Banyak pemain memilih berkarir di luar Medan. Satu bukti nyata, adalah pemain yang membawa PSMS ke final 2008 lalu pun ikut kabur. Tanpa magnet besar, Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Markus Ririhina dan Legimin Rahardjo ada generasi terakhir emas tim berlogo Tembakau ini. Bagaimana untuk kelanjutannya? Siapapun akan kesulitan untuk menjawabnya. Sekalipun anda dedengkot di PSMS. Selentingan nasib PSMS bergantung hasil Pilkada Kota Medan selalu mewarnai.
Itulah sebuah pandangan yang sudah tertanam dari belasan tahun lalu. Akibatnya, sulit mengantungi harapan PSMS bisa bangkit kembali. Apalagi saat ini bermain di level Divisi Utama. Sebuah fakta tambahan yang menyatakan tidak akan ada lagi calon bintang dari PSMS. Sebuah kondisi yang memiriskan hati kita pencinta Ayam Kinantan. Padahal sebelum proses verifikasi, Stadion memberikan efek yang luar biasa. Skuad Merah Putih bermaterikan pemain yang berasal dari Medan. “Kalau waktu dulu main di Medan, bulu kita sudah merinding diluan sebelum bertanding,” kata Rudi Keltjes, pelatih yang pernah merasakan kerasnya atmosfer di Stadion Teladan. Lantas, bagaimana cara mengembalikan kebesaran itu?
Orang-orang selalu mencanangkan program pembinaan. Namun selain itu, ada faktor lain yang sangat menentukan dan sudah terbukti menjadi ikon penting. Infrakstruktur adalah menjadi pendorong utama melahirkan kembali pemain berbakat. Membangun stadion baru atau merenovasi Stadion Teladan memang harus segera dilakukan. Sejarah PSMS puluhan tahun lalu menegaskan, Stadion yang representative melahirkan pemain bintang.. Saat itu Stadion Teladan memberikan efek luar biasa bagi Kota Medan. Membangun atau merenovasi Stadion Teladan adalah hal yang bisa mengangkat moral pemain untuk bergairah naik ke Indonesia Super League (ISL).
Jembatan Oresund Bridge dan Kualanamu.
Kota Medan dan kabupaten Deliserdang tidak terlalu jauh jaraknya. Paling lama dengan 60 menit, bisa saling mengunjungi kotanya masing-masing. Keduanya juga sama-sama memiliki klub professional di Divisi Utama. Medan dengan PSMS, Deliserdang dengan PSDS. Apakah memiliki satu Stadion yang layak tetap tidak menjadi mungkin?
Sebuah niat baik untuk maju dilakukan Denmark dan Swedia. Dua Negara yang dipisahkan oleh selat Oresund membangun sebuah jembatan bersama bernama Oresund Bridge. Kini dua kota metropolitan, Malmo di Swedia dan Copenhagen di Denmark semakin pesat dalam perekonomian. Pembangunan jembatan dianggap sukses. Pembangunan jembatan dengan sepanjang 16 km, dianggap sebuah impestasi yang dapat memajukan negaranya. Begitu juga dengan pembangunan bandara baru pengganti Polonia Medan. Pertanyannya, kenapa harus dipindahkan ke Kualanamu?
Jumlah arus penumpang yang kian membludak, badan pesawat yang semakin besar serta menghindari kecelakaan, menjadi alasan yang tepat bandara yang layak dibangun. Alasan itu menjadi hal yang wajar untuk segera mendapatkan infrastruktur bandara yang layak. Dengan desain sekelas Bandara Internasional, kereta api tujuan Bandara Kualanamu direncanakan akan dioperasikan. Bagaimana dengan Stadion?
Sepakbola juga akan terus mengalami kemajuan. Ribuan anak-anak dari Sumatera Utara tetap bercita-cita menjadi pemain bola. Di satu sisi lagi, dalam jumlah yang sama juga merindukan tontonan yang menarik tersebut. Sepakbola itu tidak pernah mati, selalu beregenerasi. Dengan infrakstruktur stadion yang layak, menghasilkan makna kepuasan. Melahirkan sebuah permainan yang menarik dan nyaman. Selain itu juga mampu meminimalisir tingkat benturan atau cedera pemain.
Selain menjadi sebuah entertaint, stadion yang layak menjadikan ajang beredukasi. Rumput yang berkualias melahirkan permainan yang punya identitas. Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia, masih belum memilikinya. Soal Stadion kalah dengan kabupaten di daerah lain, seperti Madiun dan Cirebon atau juga Sleman. Tidak memiliki klub professional, mereka memiliki Stadion yang lebih baik dari Stadion Teladan.
Berpikir Positif Soal Verifikasi
Awal ISL akan dimulai, Stadion Teladan dinyatakan tak lolos verifikasi oleh BLI. Lantas kita selalu membandingkan dengan Stadion lain yang lebih buruk dari Stadion Teladan. Bagaimana dengan Stadion Pendidikan Persiwa di Wamena? Atau Stadion lainnya yang buruk. Pertanyaan itu selalu dihembuskan.
Untuk menjadi lebih baik, jangan membandingkan dengan yang terburuk. Bila ingin maju, membandingkan Stadion yang ada di Kabupaten Wamena bukan solusi. Kita tidak akan menemukan solusi yang brilian dari sana. Terlebih untuk memajukan atau melahirkan pemain sepakbola baru berkualitas dari Medan. Begitu juga dengan cara pikir negativ soal verifikasi yang dilakukan oleh BLI. Menyatakan ada tindakan tidak fair dalam memverifikasi stadion – stadion di Indonesia. Mari berpikir positif, seberapa pentingkah verifikasi itu.
Verifikasi itu bertujuan menyatakan pantas atau tidaknya menjadi tempat pertandingan, khususnya di Indonesiaa Super League (ISL). Penonton bisa menonton dengan nyaman, pemain bisa menunjukan kualitasnya. “Dengan rumput yang bagus, akan kelihatan siapa pemain yang tidak memiliki teknik,” kata Liestiadi, asisten pelatih di Arema Malang. Jika verifikasi itu benar-benar dilaksanakan, akan ada nilai positif dari sana. Sepakbola menjadi menarik. Selain itu, keselamatan 22 pemain yang berlari di lapangan semakin terjamin.
Lihat kenapa gelaran FIFA World Cup atau Piala Dunia lebih dinanti daripada ISL? Padahal, ISL adalah karya sepakbola anak negeri. Kuatnya pesona menjadi alasan utama. Gawean tersebut tak saja menjadi show yang sangat industrialistis. Tapi menjadi ajang pamer seni dan teknik bertanding yang mengundang rasa kagum luar biasa. Itulah salah satu hasil karya pertandingan dengan infrakstruktur yang layak. Sama halnya ketika Stadion Teladan dipenuhi ribuan penonton saat PSMS memperkenalkan permainan rap-rap. Atau juga tendangan pisang Parlin Siagian hingga Marah Halim Cup, dimana sebuah waktu sebelum verfifikasi Stadion diberlakukan.
Demi masa jaya PSMS, siapa pun itu harus berperan jujur dan tulus. Apakah Pemerintah Daerah (pemda), pengusaha hingga masyarakat, harus memiliki komitmen sejati. Selain sebuah impestasi, membangunan atau meronvasi Stadion salah satu cara mengembalikan masa emas PSMS. Faktor financial memang menjadi kendala besar. APBD tak kunjung turun untuk menerenovasi secara keseluruhan stadion dengan berkapasitas 20.000 penonton ini.
Memberanian mencalonkan diri sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON), bisa dijadikan salah satu alternatif mendapatkan stadion yang reprensentatif. Mari perduli dengan keberadan Ayam Kinantan. Jangan biarkan PSMS berhenti berkarya di Stadion Teladan.
(Abdi Panjaitan)
Teroris mengenal PSMS?
Senin, 13 Desember 2010
Klasemen Divisi Utama Sementara
| No | Klub | P | W | D | L | GD | PTS |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | PERSITA | 4 | 3 | 1 | 0 | 9-0 | 10 |
| 2 | PSIM | 4 | 3 | 1 | 0 | 7-1 | 10 |
| 3 | PS BARITO | 6 | 3 | 1 | 2 | 8-4 | 10 |
| 4 | MITRA KUKAR | 3 | 3 | 0 | 0 | 8-0 | 9 |
| 5 | PERSIRAJA | 3 | 3 | 0 | 0 | 7-2 | 9 |
| 6 | PERSIDAFON | 4 | 3 | 0 | 1 | 7-2 | 9 |
| 7 | PERSEMALRA | 6 | 3 | 0 | 3 | 6-3 | 9 |
| 8 | PSLS | 5 | 2 | 2 | 1 | 3-4 | 8 |
| 9 | PERSIPASI | 4 | 2 | 1 | 1 | 6-1 | 7 |
| 10 | PERSIBA BANTUL | 3 | 2 | 1 | 0 | 5-0 | 7 |
| 11 | PSAP | 3 | 2 | 1 | 0 | 4-1 | 7 |
| 12 | PERSITARA | 4 | 2 | 1 | 1 | 7-5 | 7 |
| 13 | PERSEMAN | 4 | 2 | 1 | 1 | 3-1 | 7 |
| 14 | PSIR | 4 | 2 | 1 | 1 | 3-2 | 7 |
| 15 | PERSIGO | 5 | 2 | 1 | 2 | 5-5 | 7 |
| 16 | PERSIKAB | 5 | 2 | 1 | 2 | 4-4 | 7 |
| 17 | PSCS | 5 | 2 | 1 | 2 | 2-3 | 7 |
| 18 | GRESIK UNITED | 3 | 2 | 0 | 1 | 5-2 | 6 |
| 19 | PSS | 3 | 2 | 0 | 1 | 4-2 | 6 |
| 20 | PERSIK | 4 | 2 | 0 | 2 | 4-4 | 6 |
| 21 | PSSB | 5 | 1 | 3 | 1 | 3-3 | 6 |
| 22 | PSBI | 4 | 2 | 0 | 2 | 3-3 | 6 |
| 23 | PERSEBAYA | 5 | 2 | 0 | 3 | 5-6 | 6 |
| 24 | PERSEKAM | 4 | 2 | 0 | 2 | 5-7 | 6 |
| 25 | PSMS | 5 | 2 | 0 | 3 | 4-8 | 6 |
| 26 | PERSIPRO | 5 | 2 | 0 | 3 | 2-8 | 6 |
| 27 | PROTITAN | 5 | 1 | 2 | 2 | 5-6 | 5 |
| 28 | PERSIRAM | 4 | 1 | 2 | 1 | 2-3 | 5 |
| 29 | PS BENGKULU | 6 | 1 | 2 | 3 | 4-8 | 5 |
| 30 | PERSIKOTA | 4 | 1 | 1 | 2 | 1-2 | 4 |
| 31 | PERSERU SERUI | 4 | 1 | 1 | 2 | 4-6 | 4 |
| 32 | PSMP | 5 | 1 | 1 | 3 | 4-7 | 4 |
| 33 | PERSIH | 4 | 1 | 1 | 2 | 3-7 | 4 |
| 34 | PPSM | 5 | 1 | 1 | 3 | 1-6 | 4 |
| 35 | PERSIKABO | 4 | 1 | 0 | 3 | 4-5 | 3 |
| 36 | PERSIKU | 4 | 1 | 0 | 3 | 3-6 | 3 |
| 37 | PSIS | 4 | 1 | 0 | 3 | 2-6 | 3 |
| 38 | PERSIS | 5 | 0 | 2 | 3 | 1-11 | 2 |
| 39 | PERSIRES | 4 | 0 | 0 | 4 | 1-10 | 0 |
Jadwal PSMS 2010/2011
PSMS (2=TriYudha Handoko & Gaston Castano) vs PERSIKABO(1=Salim Alayidrus), Hari selasa , tanggal 23 nov 2010
PERSIRAJA(3=Vagner Luis OG ; Cristian Bekatal[2]) PSMS (0), Hari minggu, tanggal 28 nov 2010
PSAP SIGLI(2=Fery Komul & Saha)vs PSMS(0) , Hari kamis, tanggal 2 Dec 2010
PS.BENGKULU(1=Oh In Kyun) vs PSMS(0) , Hari selasa, tanggal 7 Dec 2010
PSMS vs PERSIH, Hari senin, tanggal 3 jan 2011
PSMS vs PERSIRES, Hari jum’at, tanggal 7 jan 2011
PSMS vs PRO TITAN FC, Hari rabu, tanggal 12 jan 2011
PSSB vs PSMS , Hari jum’at, tanggal 21 jan 2011
PSLS vs PSMS , Hari selasa, tanggal 25 jan 2011
PSMS vs PERSIPASI, Hari senin, tanggal 31 jan 2011
PSMS vs persita, Hari jum’at, tanggal 4 feb 2011
PERSIPASI vs PSMS , Hari jumat, tanggal 4 mar 2011
PERSITA vs PSMS , Hari senin, tgl 7 mar 2011
PSMS vs PSSB, Hari sabtu, tgl 12 mar 2011
PSMS vs PSLS, Hari rabu, tgl 16 mar 2011
KICK OFF TANGGAL 19 NOV 2010
Kamis, 21 Mei 2009
PSMS ... PSMS ...
Coba aja ada 'peracik' team yang tepat pasti gakkan seperti ini nasibmu PSMS.
Team itu terbentuk bukan hanya dari kumpulan pemain tangguh,hebat, dan juga mempunyai skil.
Melainkan kumpulan orang-orang yang sebenarnya mempunyai hati dan niat untuk bermain bagus dan kemajuan team.
Coba saja pemain yang sekarang ini maen dengan dengan hal yang sebelumnya saya utarakan pasti team kita ini gak mungkin bertengger di papan bawah seperi sekarang ini.
Dan yang perlu kita perlu kita ketahui Management PSMS harusnya kita pertanyakan pada saat ini, dimana hampir 80% pengesahan pembelian pemain itu ada ditangan mereka.
Tapi harus kita ketahui juga bahwa tidak bisa kita meyalahkan Management 100% sepenuhnya.
Sebabnya di Liga Super Indonesia mempunyai team-team yang mana pengelolah daripada team-team itu belum mempunyai dana cukup untuk membuat team-team mereka tersebu menjadi team-team yang berkelas dan cukup elit.
Sama halnya dengan pegelolah PSMS sendiri yang tidak mempunyai dana yang besar untuk membuat team kesayangan kita ini untuk menjadi team berkelas dan juga team elit.
Team-team yang berada di Indonesia saat ini belum bisa dibuat jadi suatu industri sepakbola modern seperti yang ada di benua Eropa pada saat ini.
Jadi hal yang mendasar untuk kita jadikan pelajaran agar kita bisa membuat industri sepakbola adalah Management team yang punya tekad ingin menjadi akto di perindustrian sepakbola.
Dengan demikian perindustrian sepakbola itu pasti akan berjalan dengan baik.
Sebab mereka telah memiliki sesuatu yang harus mereka kembang di perindustrian sepakbola tersebut.
Hal yang pertama harus dikembangkan mereka adalah stadion yang memiliki standard.
Itu sudah sangat bagus nanti bagi team yang mereka kelola.
Dan tidak perlu stadion itu ditambahin dengan embel-embel yang lain seperti harus berkualitas ataupun mewah cukup dengan standard yang ada saja.
Kemudian dilanjutkan ketahapan yang lebih sulit lagi yaitu pencarian pelatih dan pemain yang harus bisa mereka prediksi dan mereka perhatikan bahwa pelatih dan pemain tersebut dapat membuat dampak positif dan signifikan kepada team tersebut.
Dan setelah itu tercapai baru mereka harus menkoordinasikan pihak-pihak yang dapat menopang pendapatan dari pada team tersebut.
Dari mulai sponsor sampai dengan penghasilan dari penjualan tiket dan merchandise serta merta mereka juga harus dapat mengatur keuangan team tersebut dari tahap pembelian dan penjualan pemain.
Dan jangan sampai ketinggalan yang mereka harus ketahui keberhasilan team tersebut terdapat nilai 1% dari pihak ketiga yaitu suporter team itu sendiri.
Jadi pihak Management juga harus dapat mengkoordinasikan pihak ketiga tersebut.
Jangan sampai dari nilai sedikit itu dapat memporakporandakan team tersebut.
Nah apabila pengkoordinasian sebuah team dilakukan seperti ini pasti team itu menjadi team yang cukup berkelas dan dapat menyandang predikat team elit di Indonesia ini, bahkan Asia mungkin !.
Sekarang kita balik lagi ke team kita PSMS MEDAN tercinta, apakah teman-teman sekalian merasa Management team kita sudah berada di konteks perindustrian sepakbola yang benar ?
Nah itu adalah pertanyaan yang cukup mendasar yang perlu kita ketahui.
Sebab dari sana lah perjalanan team kita itu dimulai agar dapat berada di tahta tertinggi LIGA DJARUM SUPER INDONESIA.
Coba saja hal itu dapat tercipta dari mulai awal dimulainya perhelatan LIGA DJARUM SUPER INDONESIA tidak mungkin saat ini team kita berada posisi papan bawah.
Tapi apa boleh di buat perhelatan LIGA DJARUM SUPER INDONESIa sudah bergulir dan hampir menyelesaikan dari 3/4 jadwal kompetisi yang di buat oleh PSSI.
Mungkin saat ini team kita harus melakukan pembenahan dari segala faktor yang ada agar dapat menjalankan konteks perindustrian sepakbola yang baik dan benar.
Mungkin teman-teman banyak berkomentar, tapi inilah yang dapat saya perbuat dan ini merupakan ungkapan perasaan hati saya terhadap PSMS tercinta.
Saya tidak ingin melihat PSMS berada di posisi bawah klasemen dan terus terperosok sampai akhirnya terdegradasi.
PSMS harus bangkit.
PSMS kita harus menang.
PSMS kita harus jadi juara.
Bravo PSMS...
Minggu, 18 Januari 2009
Jadwal Liga SUPER Putaran II
Sabtu, 24 Januari 2009
Persijap v Persitara
Minggu, 25 Januari 2009
PSIS v Persita
Sabtu, 31 Januari 2009
Sriwijaya FC v Pelita Jaya
PSMS v PSIS
Minggu, 1 Februari 2009
Persiwa v Persipura
Persija v Persela
PSM v Persijap
Deltras v Persita
Senin, 2 Februari 2009
Arema v Persik
Rabu, 4 Februari 2009
Persita v Persitara
Sriwijaya FC v PSIS
PSMS v Pelita Jaya
Sabtu, 7 Februari 2009
Persela v Persiwa
PSM v Persita
Deltras v Persijap
Minggu, 8 Februari 2009
PSMS v Persik
Sriwijaya FC v Arema
Senin, 9 Februari 2009
Persib v Persipura
Rabu, 11 Februari 2009
Persija v Persiwa
Persitara v PSM
Kamis, 12 Februari 2009
Persiba v PKT
PSMS v Arema
Sabtu, 14 Februari 2009
Persitara v Deltras
Persib v PSM
Minggu, 15 Februari 2009
Pelita Jaya v Persita
PSIS v Persijap
Senin, 16 Februari 2009
Sriwijaya FC v Persik
Rabu, 18 Februari 2009
Persitara v PKT
Persib v Persiba
Sabtu, 21 Februari 2009
Pelita Jaya v Persijap
Minggu, 22 Februari 2009
Persitara v Persiba
Persib v PKT
Senin, 23 Februari 2009
Persela v Persipura
Rabu, 25 Februari 2009
PLAYOFF AFC CHAMPIONS
LEAGUE (PSMS)
Sabtu, 28 Februari 2009
Persik v Persiwa
Arema v Persipura
Minggu, 1 Maret 2009
PSM v PSIS
Deltras v Pelita Jaya
Persita v Sriwijaya FC
Senin, 2 Maret 2009
Persijap v PSMS
Persiba v Persela
PKT v Persija
Kamis, 5 Maret 2009
Persita v PSMS
Persijap v Sriwijaya FC
Sabtu, 7 Maret 2009
Persiba v Persija
PKT v Persela
Deltras v PSIS
Minggu, 8 Maret 2009
PSM v Pelita Jaya
Arema v Persiwa
Senin, 9 Maret 2009
Persik v Persipura
Selasa, 10 Maret 2009
LCA: Sriwijaya FC v Seoul FC
Rabu, 11 Maret 2009 a
LCA: Shanghai Shenhua v PSMS/
Armed Forces/Pea
Sabtu, 14 Maret 2009
Arema v Persela
PSIS v Persitara
Minggu, 15 Maret 2009
Persipura v Persiba
Persiwa v PKT
Persik v Persija
Senin, 16 Maret 2009
Pelita Jaya v Persib
Selasa, 17 Maret 2009
LCA: Shandong v Sriwijaya FC
Rabu, 18 Maret 2009
LCA: PSMS/Armed Forces/Pea v
Suwon Samsung Bluewings
Kamis, 19 Maret 2009
Persiwa v Persiba
Persipura v PKT
Sabtu, 21 Maret 2009
Pelita Jaya v Persitara
PSIS v Persib
Minggu, 22 Maret 2009
Sriwijaya FC v PSM
PSMS v Deltras
Senin, 23 Maret 2009
Arema v Persija
Rabu, 25 Maret 2009
PSMS v PSM
Sriwijaya FC v Deltras
Sabtu, 28 Maret 2009
Persiba v Arema
PKT v Persik
Persiwa v Pelita Jaya
Persipura v PSIS
Persitara v PSMs
Persib v Sriwijaya FC
Minggu, 29 Maret 2009
Persela v Deltras
Persita v Persijap
Senin, 30 Maret 2009
Persija v PSM
Rabu, 1 April 2009
PKT v Arema
Persipura v Pelita Jaya
Persiba v Persik
Persiwa v PSIS
Persib v PSMS
Persitara v Sriwijaya FC
Sabtu, 4 April 2009
Persela v PSM
Minggu 5 April 2009
Selasa, 7 April 2009
LCA: PSMS/Armed Forces/Pea v
Kashima Antlers
Rabu, 8 April 2009
LCA: Gamba Osaka v Sriwijaya FC
Kamis, 16 April 2009
Persija v PSMS
Sabtu, 18 April 2009
Persijap v Persib
Minggu, 19 April 2009
Persik v Persela
Senin, 20 April 2009
Persija v Deltras
Selasa, 21 April 2009
LCA: Sriwijaya FC v Gamba Osaka
Rabu, 22 April 2009
LCA: Kashima Antlers v PSMS/
Armed Forces/Pea
Rabu, 22 April 2009
Persita v Persiwa
Sabtu, 25 April 2009
Deltras v Persik
Persijap v Persipura
Minggu, 26 April 2009
PSIS v Persela
Persita v Persib
Sriwijaya FC v PKT
Senin, 27 April 2009
PSM v Arema
PSMS v Persiba
Pelita Jaya v Persija
Kamis, 30 April 2009
Sriwijaya FC v Persiba
PSMS v PKT
Persijap v Persiwa
Sabtu, 2 Mei 2009
Deltras v Arema
Persita v Persipura
PSM v Persik
Minggu, 3 Mei 2009
Pelita Jaya v Persela
Persitara v Persib
Senin, 4 Mei 2009
PSIS v Persija
Selasa, 5 Mei 2009
LCA: PSMS/Armed Forces/Pea v
Shanghai Shenhua
Rabu, 6 Mei 2009
LCA: Seoul FC v Sriwijaya FC
Kamis, 7 Mei 2009
Persipura v PSM
Persiwa v Deltras
Sabtu, 9 Mei 2009
Arema v Persib
Persik v Persitara
Minggu, 10 Mei 2009
Persija v Sriwijaya FC
Persela v PSMS
Senin, 11 Mei 2009
Pelita Jaya v PSIS
Persiwa v PSM
Persipura v Deltras
Selasa, 12 Mei 2009
PKT v Persita
Persiba v Persijap
Kamis, 14 Mei 2009
Persela v Sriwijaya FC
Sabtu, 16 Mei 2009
Persiba v Persita
PKT v Persijap
Persik v Persib
Minggu, 17 Mei 2009
Arema v Persitara
Persija v Persipura
Selasa, 19 Mei 2009
LCA: Suwon Samsung v PSMS/
Armed Force/Pea
Rabu, 20 Mei 2009
LCA: Sriwijaya FC v Shandong
Rabu, 20 Mei 2009
Persib v Persiwa
Persitara v Persipura
Kamis, 21 Mei 2009
Deltras v Persiba
PSM v PKT
PSIS v Arema
Pelita Jaya v Persik
Persijap v Persija
Persita v Persela
Sabtu, 23 Mei 2009
PSMS v Sriwijaya FC
Persitara v Persiwa
Minggu, 24 Mei 2009
Deltras v PKT
Pelita Jaya v Arema
Persijap v Persela
Persita v Persija
Senin, 25 Mei 2009
PSM v Persiba
PSIS v Persik
Sabtu, 30 Mei 2009
Persib v Deltras
Sabtu, 6 Juni 2009
Arema v Persita
Persik v Persijap
Minggu, 7 Juni 2009
Persija v Persitara
Persela v Persib
Senin, 8 Juni 2009
Persipura v PSMS
Persiwa v Sriwijaya FC
Persiba v Pelita Jaya
PKT v PSIS
Sabtu, 13 Juni 2009
Persiwa v PSMS
Persipura v Sriwijaya FC
PKT v Pelita Jaya
Persiba v PSIS
Persik v Persita
Arema v Persijap
Persela v Persitara
Persija v Persib
Deltras v PSM
